Senin, 17 Oktober 2011

Mengharukan 'Kisah Nabi Muhammad Menjelang Ajal'



Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata menberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan al-Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang- orang yg mencintaiku, akan bersama- sama masuk surga bersamaku"

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yg teduh menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca- kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya, Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam- dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda- tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.

Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik- detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba- tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yg ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "siapakah itu wahai anakku?". Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya, "tutur Fatimah lembut. lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah- olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. "pintu- pintu langut telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu, "kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Jibril lagi. "kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik- detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat- urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. "siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah di renggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya, "Uushiikum bis-shalaati, wamma malakat aimaanukum- peliharalah shalat dan peliharalah orang- orang lemah di antaramu."
Di luar pintu, tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, "Ummati, ummatii, ummatii!"- "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa'alaihi wasahbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila di benci Allah karena tiada lagi yang mengasihimu di akhirat kelak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar